Travelling

Perdana ke Luar Pulau Jawa – Lampung Baraaat .. Yeayy !!

Awal tahun 2015 saat itu, suasana hati dan keluarga masih sedih bingung sekali. Saya dan keluarga masih dirundung duka karena ayahanda wafat bulan Desember 2014, menjelang akhir tahun lalu. Belum dan bahkan ngga kepikiran sama sekali mau rencana travelling atau pergi-pergi kemana pun. Masih belum bisa ninggalin nyokap sendirian.

Selang beberapa waktu, adikku memberanikan diri minta izin nyokap untuk pergi ke sebuah kampung adat di Sukabumi. Lebih tepatnya trekking, dengan teman-teman naik gunungnya. Sementara saya, masing bingung mau ngapain dan kemana. Masih galau juga karena skripsi sudah selesai, tapi jadwal sidang belum juga muncul. Setelah ngeliat adik udah mulai berani keluar rumah, terpikir juga oleh saya kemungkinan untuk mulai beranjak lagi.

Kebetulan ada ajakan datang dari temen lama, temen pas waktu SD (Suhardi). Which is gak pernah ketemu sama sekali dengan dia sejak terakhir lulus SD, haha :D. Dia lagi iseng-iseng nawarin sekalian nyari temen buat diajak jalan backpakeran ke daerah Lampung Barat. Tawarannya menarik banget buat saya, karena ini akan jadi kali pertama saya pergi keluar Pulau Jawa (*_*). Setelah nyoba izin sama nyokap dan ternyata diizinkan walaupun mungkin terpaksa, Alhamdulillah .. saya mulai packing.

Sesuai yang telah direncanakan, kami akan berangkat hari Jumat malam tanggal 21 Maret 2015. Meeting poin ditentukan di Pelabuhan Merak. Jumat malam berangkatlah saya dari kantor naik bis ke arah Blok M. Lalu oper bis yang lewat pintu tol Kebon Jeruk. Nah, sebenernya saya janjian sama Suha di pintu tol Kebon Jeruk untuk berangkat ke Pelabuhan Merak, tapi ternyata bis dia ngga lewat pintu tol itu alias bablas langsung ke sana. Jadilah saya sendirian, 3 jam perjalanan berdiri dari Kebon Jeruk sampai Pelabuhan Merak dan baru duduk 1 jam terakhir karena ada pria bermurah hati … haha 😀 #nomodus. Total perjalanan Kemang (start 17:30) – Pelabuhan Merak (finish 23:00) 6 jam-an. Sampai di Pelabuhan, saya sempatkan sholat isya dulu sambil nunggu temen-temen yang lain kumpul. Nah, ini yang biasa di sepelekan saat sedang safar (ber-perjalanan), jangan sampai tinggalkan sholat ya teman-teman. Supaya perjalanannya diberkahi, diberi kelancaran juga perlindungan sama Allah.

Akhirnya semuanya kumpul komplit sekitar jam 24:00. Kami hanya berlima yaitu saya, Suhardi (temen SD), Aji (temen SMA Suha), Dann Joss (temen sekampus Suha), Predy (temen sekampus dan sekamar kost Suha). Oke, additional info ini adalah perjalanan perdana saya yang cewek sendirian plus keluar Pulau Jawa, haha … Tapi entah kenapa saya bersemangat sekali :D. Bener-bener menantang batas diri (nekat) karena sebelumnya saya ngga bakal diizinin untuk kedua hal ini (pergi-cewe sendirian-jauh pula). Setelah team komplit, kami langsung cus ke arah kapal. Oh ya, harga kapal penyebrangannya Rp.15,000.-, nah bagus atau ngga kapalnya tergantung yang sedang labuh atau sandar. Biasanya juga ada tambahan fee di atas kapal kalau mau duduk di kelas VIP. Karena kapal ekonomi, haha 😀 pastinya kebayang dong kaya apa. Kapalnya kali ini full musik dangdut dan house remix gitu. Mana kenceng banget itu musik, ngga bisa tidur deh, hasilnya malah jadi sakit kepala, hadeeh. Kapal start nyebrang dari Pelabuhan Merak jam 00:30 dan sampai di Pelabuhan Bakauheni jam 02:00. Penyebrangannya lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, yaitu Cuma sekitar 2 jam-an. Selama berada di atas kapal, Suha nyoba nego dengan calo travel gitu untuk mobil ke arah Terminal Rajabasa.

Terminal Rajabasa adalah tujuan berikutnya setelah nyebrang. Normally, ke Terminal Rajabasa bisa ditempuh dengan bis biasa. Sayangnya kami harus naik travel untuk mempercepat waktu perjalanan, mengingat jam penyebrangan ke Pulau Pisang terbatas. Oh ya, travel yang dimaksud di sini adalah sebuah mobil pribadi yang memang sengaja disewakan untuk mengangkut penumpang sesuai perjanjian. Akhirnya kami deal dengan calo tersebut. Harga yang diberikan sampai ke Terminal Rajabasa adalah Rp.40,000.-, jika naik bis mungkin bisa sedikit lebih murah sekitar Rp.25,000,-an. Lama perjalanan Pelabuhan Bakauheni – Terminal Rajabasa dengan travel ini sekitar 2 jam, kami start jam 02:30 sampai di Terminal Rajabasa jam 04:00. Sepanjang perjalanan pastinya kami manfaatkan untuk tidur, mengingat di Kapal tadi ngga bisa tidur sama sekali. Sampai di Terminal Rajabasa kami langsung disambut oleh beberapa calo yang menawarkan diri untuk travel ke Pelabuhan Krui. Setelah sempet ngeles, tawar menawar dan agak berantem sedikit, dapatlah harga untuk travel ke Pelabuhan Krui sebesar Rp.100,000.-. Waktu subuh tiba, kami sholat subuh dulu di sebuah masjid yang letaknya di belakang terminal, setelah itu menunggu mobil yang akan mengangkut kami ke Pelabuhan Krui.

IMG_6268

Penyebrangan ke Pulau Pisang bisa ditempuh lewat dua pelabuhan, Pelabuhan Krui dan Pelabuhan Tembakak. Kedua pelabuhan tersebut memiliki jadwal penyebrangan dan lama penyebrangan yang berbeda. Kebanyakan orang lebih memilih Pelabuhan Krui karena lebih mudah dicapai dibandingkan Pelabuhan Tembakak, meskipun lama tempuh penyebrangan dari Pelabuhan Krui lebih lama jika dibandingkan dari Pelabuhan Tembakak yang relatif lebih singkat. Selain itu, kelebihan menyebrang dari Pelabuhan Krui jika ikut jadwal pagi hari, kita akan bisa lihat lumba-lumba yang berenang bebas di lautan sana :). Hampir sama kaya ke Kiluan gitu. Biasanya jadwal penyebrangan pagi dari Pelabuhan Krui jam 07:00 – 09:00 dan siang jam 13:00 – 14:00, sedangkan di Pelabuhan Tembakak hanya siang saja jam 13:00 – 14:00. Balik ke start dari Terminal Rajabasa – Pelabuhan Krui, memakan waktu sekitar 7-8 jam perjalanan. Kalo kata Aji, ini udah kaya dari Jakarta – Yogya, haha :D. Untungnya abangnya / drivernya memang sudah sangat kenal jalan ke arah sana dan lumayan asik diajak ngobrol. Tapi tetep yang khas daerah lampung ini, ngga afdol kalo dalam perjalanan ngga ada musik dangdut. Alhasil selama 7-8 jam perjalanan itu, kami mabok dengerin lagu dangdut (#_#), tapi untungnya juga karena saya ngantuk ya udah aja tidur hampir sepanjang perjalanan. Ngga saya doang sih, yang duduk di kursi belakang juga (Dann Joss en Predy). Aji sama Suha kayanya betah melek, atau emang ngga punya ngantuk haha :D. Pemandangan sepanjang perjalanan standard lah, kalo ngga pasar, pemukiman, sawah, bukit-bukit dan hutan. Kondisi jalan ke arah sana sudah bagus, tapi lumayan susah saat sudah mendekati daerah Krui, jalannya masih rusak dan bolong-bolong di sana-sini alias belum rata dan masih dalam tahap pembangunan. Sampailah di Pelabuhan Krui sekitar jam 12:30an. Kami turun dan coba tanya-tanya tentang penyebrangan, ternyata siang itu kapal yang menyebrang ke sana dari Pelabuhan Krui sudah di full booked oleh seseorang yang kebetulan sedang hajatan di sana. Jadi mereka menyebrang untuk mengangkut keperluan hajatan (pernikahan). Udah sempet bingung juga harus gimana, akhirnya kami harus bertolak ke Pelabuhan Tembakak untuk coba alternatif penyebrangannya.

Nah, yang jadi peernya adalah apakah cukup waktu dari Pelabuhan Krui ke Pelabuhan Tembakak sampai disana jam 14:00 ? Karena armada/kapal penyeberangan dari sana tidak sebanyak di Pelabuhan Krui. Ditambah lagi jika jam penyebrangan sudah lewat dari jam 14:00, seperti yang kami baca sebelumnya akan kena charge sewa khusus sekitar Rp.500,000.- per kapal. Tapi ngga ada pilihan lain selain nyoba, mau ngga mau tetep kami harus ke sana. Kami akhirnya nambah sekitar Rp.10,000.- per orang untuk sampai ke Pelabuhan Tembakak dengan mobil travel yang sama. Angkutan umum sendiri kebanyakan hanya sampai Pelabuhan Krui, untuk ke Pelabuhan Tembakak kita harus sewa mobil sendiri atau nunggu bis yang lewat Pelabuhan Krui ke arah Bengkulu. Bisa juga naik ojek dari Krui ke Tembakak dengan harga sekitar Rp.25.000,- sampai Rp.30.000,-an bisa lebih. Perjalanan dari Pelabuhan Krui ke Pelabuhan Tembakak lumayan singkat memang, sekitar 1-2 jam. Jalannya relatif rusak dan bolong-bolong. Bonusnya, pemandangan sepanjang perjalanan dari Pelabuhan Krui ke Pelabuhan Tembakak lumayan bagus. Garis pantai pinggiran pulau Lampung dengan bukit yang bertumpuk-tumpuk di sisi lain pulau … woow (*_*). Sampai di Pelabuhan Tembakak sekitar jam 13:50, hampir mepet dengan jadwal penyebrangan terakhir. Mobil travel kami berhenti di sebuah warung di pinggir posko penyebrangan. Warung ini adalah satu-satunya warung yang kami temui sepanjang jalan ke arah Pelabuhan Tembakak.

Menurut informasi ibu penjaga warung, masih ada 1 kali penyebrangan lagi ke Pulau Pisang. So, karena memang belum tepat jam 14:00, kami putuskan untuk makan siang atau nyemil dulu di warung tersebut sambil menunggu datangnya kapal nelayan dari sebrang. Sekitar jam 14:00 kapal pun tiba, kami sudah semangat sekali untuk langsung naik. Tapi ternyata mereka harus menurunkan muatan yang dibawa dari sebrang beserta beberapa orang penumpang. Mau nggak mau kami harus nunggu lagi sekitar setengah jam, sampai kapal nelayan tersebut siap untuk nyebrang. Semua barang diangkut terlebih dulu ke atas kapal, barulah penumpangnya naik. Lalu kami mulai berlayar .. yuhuu *\(^_^)/*. Gelombang lautnya lumayan tenang siang itu. Sepanjang mata memandang yang tampak hanya air bening banget udah kaya ager-ager warna biru (*o*), langit biru berawan seperti dilukis, plus ditambah pulau berpasir putih di kejauhan. Subhanallah bagus banget :). Kira-kira waktu penyebrangan sekitar 15-20 menit. Dan sampailah kita di pulau yang masih terbilang belum banyak dijamah sama para traveller.

IMG_6387

Begitu mendarat, kami langsung tanya-tanya dengan penduduk sekitar untuk daerah atau tempat yang aman dan biasa digunakan untuk mendirikan tenda. Sebenarnya juga ada penginapan atau semacam homestay di sana, yaitu rumah warga yang memang disewakan bagi pengunjung. Tapi karena memang kami niat nenda, jadilah ngga pake gitu-gituan. Mereka menyarankan buka tenda di pantai dekat dermaga lama dimana garis pantainya lebih luas dan aman dari bibir pantai saat pasang. Penduduk juga mengingatkan untuk mengurus perizinan kepada Kepala Desa setempat. Kami pun bergegas ke sana, mendirikan tenda dan menggelar fly sheet dibawah beberapa pohon kelapa. Saat tenda siap, Suha dan Predy mengurus perizinan pada Kepala Desa setempat untuk tinggal semalam di pulau, sementara yang lain menunggu di tenda. Sepulangnya mereka dari tempat Kepala Desa, kami (saya, Suha, Aji dan Predy) mencari sumber air terdekat untuk mandi dan sholat, sementara Dann Joss tetap di tenda untuk menjaga tenda dan mulai menggoreng beberapa bahan makanan. Setelah dari masjid, Aji dan Predy langsung bermain-main air tepat di bibir pantai depan tenda kami, bergabung dengan beberapa anak-anak kecil penduduk asli pulau. Saya, Suha dan Dann Joss memutuskan untuk main airnya besok, kami memasak dan berfoto-foto saja dan ngobrol dengan beberapa penduduk yang lewat dekat tenda kami. Oh ya, beberapa informasi mengenai Pulau Pisang ini, sumber air dan listrik di pulau ini cukup terbatas. Sumber airnya berupa sumur timba atau sumur pompa yang ada di beberapa titik di pulau, salah satu yang terdekat dengan kami adalah sumur timba dekat dengan masjid. Listrik di pulau ini juga hanya bertahan sampai jam 6 sore saja, selebihnya jika memang darurat membutuhkan listrik menggunakan semacam diesel.

Sekitar menjelang jam 17:00 terlihat para nelayan setempat tampak pulang dari melaut. Mereka berkumpul di satu titik yang tidak jauh dari tempat camp kami, untuk lelang hasil melaut. Nah, kesempatan bagus dong untuk cari makanan fresh, Suha dan Predy pun bergegas ke sana untuk mencari sesuatu yang menarik. Mereka akhirnya mendapatkan 2 ekor tuna sebesar lengan tangan saya yang sudah dibakar langsung di api. Rasanya masih juicy banget, fresh lah pokoknya. Saat itu hari mulai sore dan gelap. Setelah puas makan ikan tadi, kami mulai beberes dan mempersiapkan diri dan tenda dengan headlamp dan senter untuk penerangan. Ketika terdengar adzan magrib dari masjid, saya, Suha dan Predy langsung pergi ke masjid dengan penerangan seadanya. Lumayan serem juga yaa, karena bener-bener gelap banget dan terbatas banget penerangannya. Sepanjang rumah yang kami lewati saat pergi ke masjid, semuanya menggunakan lilin atau lampu minyak sebagai penerangan. Di masjid juga sepi dan gelap banget, hanya beberapa orang saja yang sholat di sana. Selesai sholat kami berjalan kembali ke camp, kami duduk-duduk sambil masak, nyemil-nyemil dan makan ditemani suara deburan ombak yang langsung di depan tenda kami. Saat tiba isya, saya, Suha dan Predy sholat berjama’ah di depan tenda. Setelah itu saya putuskan masuk ke dalam tenda tidur saja, sementara para cowok-cowok berempat itu di luar tenda masih ngobrol-ngobrol dan berencana tidur di luar tenda pakai matras dan sleeping bag saja. Cuacanya memang lumayan cerah malam itu, tapi menjelang malam mulai gerimis gitu. Jadilah mereka tidur berteduh di bawah fly sheet.

Keesokan paginya, saya, Suha dan Predy bangun menjelang subuh dan berjalan ke masjid untuk subuhan berjama’ah di masjid bersama beberapa bapak-bapak penduduk asli pulau. Sepulangnya dari masjid, kami mulai menggoreng beberapa makanan untuk sarapan sambil nunggu sunrise. Dan woow subhanallah sunrisenya bagus bangeet .. here we gooh cekidot :D. Sunrise dan sunset  biasanya memang paling ditunggu-tunggu yaa kalo moment di pantai gini. Sayangnya sunset di sini ngga ada, karena memang sunrise atau sunset di pantai itu tergantung kedudukan garis pantainya terhadap matahari. Sementara sunrisenya ya bisa diliat sendiri, asli dan natural banget kaaan :p.

IMG_6342

Puas bergaya ini dan itu, saya, Suha, Predy dan Dann Joss memutuskan untuk menyusuri garis pantai pulau ini ke arah timur pulau. Sedangkan Aji memilih untuk keliling pulau dengan sewaan motor pada seorang anak penduduk asli pulau. Sepanjang penyusuran pantai ke arah timur pulau, kami menemukan pemandangan bagus banget, pantai berbatu yang mungkin batas laut dalam dengan laut dangkal. Karena memang laut di pulau ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Nah pemandangan yang unik dan ngga terekam kamera adalah ada sekelompok anak hiu yang berenang ke arah bibir pantai, sepertinya mereka terbawa ombak. Tapi sayangnya ngga bisa ditangkep juga, takutnya emaknya nyariin, hihi .. kan sereem :D. Kemudian kami berjalan kembali ke arah tenda, tapi kami mengambil jalan lewat dalam pulau bukan lewat pesisir pantai. Kami melewati beberapa rumah-rumah penduduk, tidak begitu berbeda dengan perkampungan biasa. Sesampainya di tenda, saya, Suha dan Dann Joss melanjutkan dengan main air *\(^_^)/*. Padahal di siang hari seperti itu, biasanya air pasang. Tapi kami ngga peduli lagi, kapan lagi yaaa kaan bisa main di alam yang masih bersih seperti ini ?. Sedangkan Predy dan Aji di tenda, entah apa yang mereka lakukan. Menjelang dzuhur kami mulai bebersih diri, mandi dan sholat. Lalu kami mulai packing. Ini foto full team kami :).

1508501_731812000271866_1893786878386721987_n

Siang ini kami putuskan untuk go back to Jekardah tercintah. Kami berfoto-foto lagi untuk terakhir kalinya. Huhuu 😦 .. rasanya ngga rela banget harus ninggalin tempat seindah dan setenang ini, tapi apa daya yaa. Kemudian kami berjalan ke arah tempat sandarnya kapal nelayan yang akan membawa kami ke Pelabuhan Tembakak lagi. Penumpang yang lain juga mulai berdatangan, kemudian tidak lama empunya kapal datang dan berangkatlah kami menyebrang. Gelombang laut di sini menurut para penduduk bisa sampai setinggi rumah lhoo!. Bahkan mereka pernah terbalik kapalnya, tapi masing-masing berpegangan pada kapal. Jadi, menurut mereka relatif aman walaupun kapal terbalik. Tetep aja sereem banget ngebayanginnya yaa kaan. Mendekati Pelabuhan Tembakak, gelombangannya sedikit meninggi. Kapal kena hempas gelombang satu kali, yang akibatnya baju saya basah dari pinggang sampe kebawah :D. Sementara yang lain engga basah karena mereka aware pas gelombangnya dateng :(. Menepi dan menepi akhirnya sampailah kami di Pelabuhan Tembakak kembali.

Perjalanan selanjutnya, kami harus ke Kota Krui atau searah ke Pelabuhan Krui. Untuk ke arah sana, jarang sekali angkutannya, kemungkinannya nunggu lama. Beberapa angkutan yang ada yaitu angkutannya berbentuk mobil Suzuki pribadi gitu yang mengangkut orang rata-rata dari arah Bengkulu ke arah Lampung atau bis besar dari Bengkulu ke arah Jakarta atau Yogyakarta. Sambil menunggu kami makan dulu di warung yang memang satu-satunya di situ (warung yang saya ceritakan pertama, terletak di tepat di tepi Pelabuhan Tembakak). Menunggu sudah lumayan lama juga, tapi tak kunjung datang juga angkutan atau mobilnya. Lalu ada sebuah mobil bak yang parkir di dekat warung, sepertinya pemiliknya habis menjemput barang dari kapal nelayan yang kami tumpangi tadi. Kebetulan Ibu pemilik warung kenal dengan pemiliknya, kemudian Ibu pemilik warung mencoba bertanya padanya apakah mungkin jika kami menumpang sampai Krui. Ternyata mereka tidak masalah, Alhamdulillah .. ya sudah namanya mefet gini akhirnya kami menumpang mobil bak tersebut.

Sampai di Krui, kami turun dan ngga lupa mengucapkan terima kasih kepada pemilik mobil bak karena sudah memberi tumpangan. Lalu kami mampir ke sebuah masjid dulu untuk sholat ashar. Setelah itu kami mencoba mencari informasi mengenai bus “Krui Putra” yang bisa mengangkut kami sampai Terminal Rajabasa. Dari informasi yang kami dapatkan sebelumnya, bus tersebut beroperasi setiap hari. Tapiii … jeng-jeng … ternyata setelah Suha coba tanya-tanya dan cari tau bahwa hari minggu sore, bus-bus tersebut tidak beroperasi alias libur. Kami pun mau nggak mau percaya dengan informasi yang didapatkan, karena pangkalan bus tersebut ada di depan masjid tempat kami singgah. Alhasil kami cukup kebingungan mau gimana dan naik apa supaya bisa sampai ke Terminal Rajabasa. Kemudian Suha dapat tawaran travel atau sewaan mobil pribadi sebesar Rp.700,000.- full booked. Full booked disini maksudnya dihitung mobil penuh, jadi dia tidak akan ambil penumpang lagi di tengah jalan. Karena memang tidak ada opsi lagi, akhirnya kami iyakan saja. Sayangnya kami ditipu :(, sampai di tengah jalan si sopir mengambil 1 orang penumpang lagi. Kesel banget pastinya, karena kami sudah conditioning mobil bebas hanya kita aja, ternyata dia masih ambil penumpang juga.

Kami sampai di Terminal Rajabasa sekitar jam 01:00 dini hari, kemudian kami putuskan untuk menunggu subuh di masjid belakang terminal. Suasananya sepi banget. Tapi karena dekat terminal, masih banyak calo yang bertahan sampe jam segitu. Beberapa calo menghampiri kami dan bertanya-tanya kemana tujuan kami. Suha lagi-lagi nyoba nego-nego harga juga, siapa tau ada yang cocok. Akhirnya ada yang deal dengan harga yang sama seperti sebelumnya Rp.40,000.- ke Pelabuhan Bakauheni. Kami pun putuskan untuk cau saja ke sana, saat itu dari Terminal Rajabasa sekitar jam 02:00 dini hari. Sepanjang perjalanan dari Terminal Rajabasa ke Pelabuhan Bakauheni, kami masih ditemani dangdut remix apalah itu yang diputer kenceng banget sama sang supir haha :D. Lalu kami tiba di Pelabuhan Bakauheni menjelang subuh, perjalanan juga hampir sama dengan sebelumnya sekitar 2 jam-an. Kebetulan ada kapal yang mau berangkat, jadi kami langsung beli tiket sebesar Rp.15,000.- dan cus naik. Alhamdulillah yaa .. rejeki anak sholeh, kapalnya bagus eeuyy. Jadi obat cape, ngga ada dangdut pula hahaha :D. So, bisa nikmatin perjalanan dengan tenang sampai Pelabuhan Merak. Ini dia potonyah 😀

10451136_731811270271939_5025570961224183402_n

Alhamdulillah, tiba di Pelabuhan Merak sekitar jam 06:30. Kami pun berjalan keluar untuk mencari bus ke arah Jakarta. Jalan 5 menit dan nunggu sekitar setengah jam, akhirnya kami dapat bus ke arah tujuan pulang masing-masing. For closing part, setiap perjalanan di tahun 2015 yang saya tulis di blog ini, inshaallah ada detail informasi perjalanannya dan pastinya up to date dari segi biaya dan waktu. Berikut itinerary waktu dan biaya untuk temen-temen yang berminat backpackeran sendiri ke Pulau Pisang :

Hari / Tanggal Waktu Durasi Tujuan / Nama Tempat Biaya
Jumat, 21 Maret 2015 17:30 – 17:40 10 menit Kemang – Blok M Rp.  10,000.-
17:40 – 19:00 1 jam 10 menit Blok M – Kebon Jeruk Rp.    8,000.-
19:00 – 23:00 4 jam Kebon Jeruk – Pelabuhan Merak Rp.  30,000.-
Sabtu, 22 Maret 2015 00:30 – 02:00 1 jam 30 menit Pelabuhan Merak – Pelabuhan Bakauheni Rp.  15,000.-
02:00 – 04:00 2 jam Pelabuhan Bakauheni – Terminal Rajabasa Rp.  40,000.-
05:30 – 12:30 7 jam Terminal Rajabasa – Pelabuhan Krui Rp.100,000.-
12:30 – 14:00 1 jam 30 menit Pelabuhan Krui – Pelabuhan Tembakak Rp. 10,000.-
14:00 – 14:30 30 menit Pelabuhan Tembakak – Pulau Pisang Rp. 15,000.-
Minggu, 23 Maret 2015 13:30 – 14:00 30 menit Pulau Pisang – Pelabuhan Tembakak Rp. 15,000.-
14:30 – 15:30 1 jam Pelabuhan Tembakak – Kota Krui Rp. 25,000-
17:00 – 01:00 8 jam Kota Krui – Terminal Rajabasa Rp.140,000.-
02:00 – 04:00 2 jam Terminal Rajabasa – Pelabuhan Bakauheni Rp. 40,000.-
Senin, 24 Maret 2015 04:00 – 06:30 2 jam 30 menit Pelabuhan Bakauheni – Pelabuhan Merak Rp. 15,000.-
06:30 – 10:30 4 jam Pelabuhan Merak – Jakarta Rp.  30,000.-
Total Ongkos Rp.493,000.-

Oh ya, rincian di atas berarti belum termasuk jajan, bekel cemilan, logistik lain dan makan pokok yaa. Itu bisa disesuaikan dengan budget yang dibawa masing-masing. Travelling, kemanapun destinasinya dan apapun aktivitasnya ngga akan pernah bikin saya bosan. Pastinyaa juga temen-teman yang lain. Tapi ingatlah hikmahnya, bahwa Allah kasi kita rezeki, waktu, kesempatan, dan pengalaman yang uncountable di setiap perjalanan. So, jangan pernah tinggalkan sholat dan kewajiban kita yang lain pada Allah, karena itu adalah bentuk rasa syukur kita atas itu semua. Baiklaah .. selamat menuliskan rencana jalan-jalan kalian yaa .. semoga bermanfaat 🙂 teman – teman dan jadilah traveller yang bijak alias keep the nature save, clean and pure.

In term search : #Backpakeran #PelabuhanMerak #PelabuhanBakauheni #TerminalRajabasa #PelabuhanKrui #PelabuhanTembakak #LampungBarat #PulauPisang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s