Travelling

Plesiran ke Dieng yuuk !

Helloo fellaaas *\(^_^)/*, akhirnya mendarat lagi di sini yaaa. Setelah berhasil mengumpulkan niatan sepenuh hati untuk nulis lagi. Baiklah, kali ini mau cerita tentang tempat yang saya sebut negeri sejuta destinasi, yaitu Dieng Plateau atau dikenal juga dengan Dataran Tinggi Dieng. Ini adalah kali kedua saya ke sini, dulu pertama ke sini pas perpisahan SMA dan itu kebayang-bayang terus pengen ke sini lagi sampe akhirnya kesampean .. Alhamdulillah :D.

Perjalanan ke Dieng kali ini bareng sama temen-temen yang ketemu dari facebook Backpacker Indonesia. Saat itu Bang Ipung (Syaiful Rachman) posting trip ke Dieng dan kebetulan tanggalnya cocok. Mungkin sebagian sudah ada yang pernah ikut atau kenal dengan Bang Ipung, biasanya tripnya lebih ke arah ge-gunung-an gitu.

Okey .. to the main point .. berangkatlah kami, tanggal 1 April 2014 (waktu itu) itu dengan meeting point di KFC Tugu Tani sekitar jam 10-an pagi. Setelah sempet tunggu-tungguan sedikit, berkumpulah kami semua ber-12 dari KFC Tugu Tani menuju Dieng. Dijalan kami harus pick up satu orang lagi di pintu tol Bekasi, setelah itu baru cus ke daerah Wonosobo. Perjalanan ke arah sana lumayan macet saat itu karena high session. Alhasil karena macet itu semua pada kelaperan, berhentilah kami di salah satu pinggiran jalan sekitar Garut (kalo ngga salah) untuk makan dulu. Setelah kenyang dan tenang, barulah lanjut jalan lagi. Akhirnya sekitar subuh hari kami tiba di Ds. Sembungan atau Bukit Sikunir, ini meleset jauh dari estimasi sebelumnya yang seharusnya kami sampai di sana sekitar jam 7 malam. Macet banget plus antrian parkir itu penuh dan kita parkir jauh dari area utama. Rencana semula untuk nge-camp di pinggiran Telaga Cebong dan niat bisa liat sunrise 7 gunung di atas Sikunir pun sirna .. hahaha :D.  Ini jadi pelajaran berharga buat saya, ngga akan pernah lagi keluar jalan kemana-pun di high session. Karena kemungkinan besarnya perjalanan ngga akan sesuai dengan apa yang direncanakan.

Setelah foto-foto secukupnya, kami putuskan kembali ke mobil saja karena di atas sana juga cukup padet jalur naik dan turunnya alias antri. Dari Sikunir kami beralih jalan ke arah Batu Pandang. Nah, disini kami bisa liat hampir semua pemandangan Telaga Warna dan Dieng dari atas kejauhan. Cekidot ini potonya .. bagus kaaan ?

1959340_758923674118013_596837615_n

Lanjut, setelah dari Batu Pandang, kami cus ke Dieng Plateau Theater. Di sana kami ngantri sebentar untuk gantian liat pemutaran sebuah film pendek. Film itu bercerita tentang tragedi saat beberapa kawah di sekitar Dieng mengeluarkan gas beracun yang akhirnya menewaskan banyak warga setempat. By the way guys, sebenernya ceritanya juga udah agak lupa, haha :D, ya kurang lebih seperti itu lah yaa. Setelah nonton film, kami sempat sarapan sebentar, lalu lanjut jalan ke arah Telaga Warna. Baru tau lho .. ternyata dari Dieng Plateau Theater ke Telaga Warna itu deket, lewat bagian belakangnya gitu :D. Here u goo .. poto full teaam kamii *\(^_^)/*

complete team

Dari Telaga Warna, kami lanjutkan ke Candi Arjuna. Candi Arjuna ini yang bikin bagus adalah pemandangan sekitarnya yang lapang dan bersih. Selain itu juga seneng liat banyak anak kecil pada lari-larian ke sana kemari sambil terkekeh-kekeh. Hawa dingin di sekitar candi jadi bikin orang ramah-ramah deh dan cepet laper pastinya, hehehe :D. Puas foto-foto, kami lanjut makan. Kali ini makannya adalah kuliner khas Dieng, yaitu “Mie Ongklok”. Kesan pertama pas ngeliat penampakan makanan ini agak ngga meyakinkan rasanya, hahaha .. karena agak berlendir gimana gitu bumbunya. Tapi ternyata memang gitu khasnya, mie kuning yang dihidangkan dengan bumbu kacang campur sagu yang mengental plus sate gitu. Rasanya lumayan juga sii untuk untuk ngisi perut yang cemberut kena hawa dingin sore.

Selesai makan dan sholat, kami lanjut ke basecamp pendakian untuk preparation nanjak ke Gn. Prau.Nah, sedikit ulasan tentang Gn. Prau, gunung ini sepertinya adalah salah satu gunung favorit para pendaki. Pastinya karena pemandangannya yang dahsyat, bukit-bukit teletubbiesnya yang bagus banget 🙂 plus bintang-bintang di langit malem yang keliatan banget itu .. bikin jatuh cinta \(*o*)/. Gn. Prau bisa juga dipakai untuk latihan nanjak gunung-gunung yang lebih tinggi, karena treknya sendiri ngga terlalu susah. Jalur pendakiannya lumayan jelas, jalan-jalan setapak bertanah liat yang mungkin agak licin kalau hujan aja. Kanan kiri jalan setapak berganti-ganti bisa hutan atau jurang. Gn. Prau ini adalah pendakian saya yang kedua, setelah Gn. Lawu.

Okey, lanjut, then we start naik sekitar jam 4an sore. Yang pertama kami lewati adalah sawah-sawah terasering yang makin meninggi, lalu perlahan masuk kawasan pendakiannya yang berganti hutan-hutan. Di Prau ini yang jelas, ngga banyak ditemui pos-pos pendakian seperti lawu. Salah satu patokan yang biasa dipakai pendaki adalah menara sinyal di salah satu bukit tertinggi. Menara sinyal ini bisa ditemui setelah melewati hutan pinus yang indah dan mistis kaya di film twilight haha :D. Beberapa diantara kami sampai dimenara sinyal sekitar maghrib, selebihnya ada 4 orang-an yang menyusul sampai. Hawa dingin di sekitar menara sinyal ini, ruarr biasa. Daerah Dieng bawah saja sudah dingin, apalagi di gunungnya kaya ginii,, freezyyy abiis :D.

Setelah rombongan terkumpul lengkap di menara sinyal, kami mulai jalan lagi ke arah camp area yang kurang lebih jaraknya sekitar naik dan turun 2 bukit gitu. Cuacanya dingin sekali sekali malam itu. Kabutnya yang lumayan tebal plus embun dingin yang bikin susah napas, membuat kami berhenti sebentar untuk minum dan atur napas lagi. Lalu kami teruskan jalan lagi hingga sampai di camp area sekitar jam 11 malam. Sampai disana kami saling bagi tugas, yang cewek mulai masak dan yang cowok mulai dirikan tenda. Tenda siap, makanan juga udah siap, kami makan dan mulai cepet-cepet masuk tenda. Hawa dinginnya bener-bener bikin ngga betah di luar. Well, tidur pun saya juga tetep ga nyenyak pastinya karena walaupun udah pake kaos kaki dobel, jaket, kupluk, plus tumpukan barang-barang, kakinya tetep dingin.

Singkat ceritanya, ketemu subuh hari esoknya kami niat mau liat sunrise. Tapi kabut yang tebel dipastikan akan bikin matahari ngga keliatan pas terbit. Akhirnya ya magerlah kami, dan mutusin masak aja buat sarapan. Setelah selesai sarapan, kami berfoto-foto ria dan karena hari juga udah mulai terang, kami menjelajah bukit-bukit di sekitar camp area. Naiklah kami ke salah satu bukit, dan here we goo .. “Puncak Patak Banteng 2.563 mdpl”. Nah ini fotonya, walaupun ngga lengkap anggotanya 😀

1970533_854057264608698_758190059_n

Lanjut setelah itu kami packing-packing lagi .. dan after all packed properly, kami langsung lanjut jalan ke arah turun. Targetnya sekitar jam 4 sore semua sudah sampai bawah. Jalur turun lumayan terjal dan licin banget, saya sendiri sempet kepleset sekali waktu itu. Pemandangan dari atas jalur, Masya Allah bagus banget :), ga bosen-bosen deh main ke Dieng lagi kapan-kapan. Saat turun pun kami juga terpisah beberapa kelompok. Rombongan pertama yang sampai duluan itu Ka Susi dan Ferry. Rombongan kedua, saya dan Bang Sinje. Rombongan ketiga, Tania, Ka Surya dan Yuni. Yang keempat Bang Ipung dan Bang Firwan. Terakhir rombongan elite kita, Bang Anto, Bang Rikes, Heri dan Ari.

Setelah semuanya mandi dan bebersih, berangkatlah kita menuju Jakarta lagii, hoho. Ngga lupa beli “carica” duluu, oleh-oleh khas Dieng. Memang ini cuma ada di Dieng aja, ngga bakal bisa ditemuin di sekitaran Wonosobo juga. Alhamdulillahnya, arah Jakarta ngga terlalu macet saat pulang. Kita sempet mampir makan juga di Soto Pak Min daerah mana gitu (lupa lagih saking kelamaan). And finally, sampai Jakarta kurang lebih pagi sekitar jam 8an esok harinya.

Untuk yang kesekian kalinya, Dieng adalah tempat sejuta destinasi yang menarik dan gak ada abis-abis kangennya untuk dikunjungi lagi dan lagi. Eventough cuma ngeliat tumpukan sawah kotak-kotak di atas sana, ladang kubis dan kentang, saya udah seneng banget :).

IMG_4322

Nah, beberapa tips buat temen-temen yang mau backpakeran ke sini, bisa cek point-point di bawah ini :

  • Ada beberapa cara ke sini, cara pertama bisa sewa mobil langsung dari Jakarta ke Dieng, cara kedua bisa naik kereta turun di Purwokerto, lanjut bus ke arah Wonosobo dan lanjut lagi angkot atau mikro, cara ketiga langsung naik bis dari Jakarta turun di terminal Wonosobo lanjut angkot atau mikro bus arah Dieng.
  • Untuk keliling Dieng, kalian bisa cari penginapan yang sekaligus nyewain motor. Atau jika memang ngga dapet yang sepaket gitu, pinjam ke penduduk setempat boleh kok, tapi tetep bayar yaaa. Keliling pakai motor itu lebih pas dan puas banget hasilnya, karena emang tempat wisatanya deketan satu sama lain.
  • Jangan lupa cobain makanan dan oleh-oleh khas Dieng, yang ngga ada di manapun kecuali di sana, salah satunya “mie ongklok” dan “carica”

Okeey, kata penutupnya selamat mencoba ya prenss. Bener deh, ngga nyesel lho dateng ke Dieng, apalagi kalau pas ada festival di sana. Biasanya sekitar pertengahan tahun. Pastinya rame dan seru. Semoga bermanfaat 😀 and happy backpacker *\(^_^)/*

In term search : #Backpakeran #Dieng #BukitSikunir #BatuPandang #DiengPlateauTheater #CandiArjuna #TelagaWarna #Pendakian #JalurPatakBanteng #JalurDieng #GunungPrau #2563Mdpl #MieOngklok #Carica

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s